MEMAHAMI “SEMANGAT” PUSAKA DAYAK


MEMAHAMI “SEMANGAT” PUSAKA DAYAK

Dalam hampir semua keyakinan agama didunia ini meyakini akan adanya benda-benda yang memiliki nilai magis, dipercaya memiliki kekuatan ilahiah baik sebagai perantara melakukan ritual, berkomunikasi dengan Yang Kuasa, perlindungan, kekebalan, pamor, perkasih, pengobatan dll. Kekuatan ilahiah didalam suatu benda keramat ini dalam keyakinan Dayak disebut sebagai GANA atau SEMENGET / SEMANGAT atau didalam bahasa Hindu balinya adalah TAKSU. Semenget atau Gana ini adalah bagian dari kekuatan ilahiah yang dapat digunakan oleh pemiliknya untuk banyak hal, semisal ketika berperang maka semangat tadi akan memberikan kemampuan lebih bagi sang pemilik pusaka tadi. Dalam keyakinan Dayak kekuatan Gana didalam benda bertuah ini ada yang bersifat alamiah dari kekuatan alam ada juga yang berupa isian melalui ritual.

Berikut ini adalah tata cara dan ritual pengisian semenget atau kekuatan taksu sengiang dengan menggunakan tata cara Dayak Benuaq.

Berikut ini adalah tata cara dan ritual pengisian semenget atau kekuatan taksu sengiang dengan menggunakan tata cara Dayak Benuaq.

Untuk menjaga kekuatan magisnya maka benda benda ini akan dibawa didalam kegiatan kegiatan ritual adat untuk dipelas dengan darah atau dirawat secara pribadi dengan memberi makan seperti memperlakukan benda benda pusaka tersebut sebagai benda yang hidup. Berikut ini adalah ritual memalas dan memberi makan kekuatan gana yang ada di Mandau dengan cara Dayak Dusun. Pertama dilakukan dengan memberi makan kue kuean yang dibuat khusus, pertama menggunakan tangan kiri namun tidak boleh sampai mengenai mandau, yang melambangkan kita memberi juga makan hal hal yang tidak baik supaya hal hal negative yang bisa mencelakakan kita tidak menimpa kita, kemudian dengan tangan kanan mengenai senjata atau pusaka kita untuk memberi makan hal hal positive supaya hal tersebut ada pada pusaka kita. Kemudian pusaka akan didinginkan dengan media darah ayam jantan merah dan juga pupur basah, kemudian ditampung tawar. Setelah kita memberi makan juga kita akan memberikan bekal kepada semenget yang ada pada pusaka kita.

ritual memalas dan memberi makan kekuatan gana yang ada di Mandau dengan cara Dayak Dusun

ritual memalas dan memberi makan kekuatan gana yang ada di Mandau dengan cara Dayak Dusun

ritual memalas dan memberi makan kekuatan gana yang ada di Mandau dengan cara Dayak Dusun

ritual memalas dan memberi makan kekuatan gana yang ada di Mandau dengan cara Dayak Dusun

Didalam keyakinan Dayak, Semangat atau Gana ini tidak setiap saat bisa dipamerkan, ia seringkali akan muncul dalam keadaan terdesak. Dan yang utama bagi pemilik pusaka ini , ia harus mengetahui nama dari Semangat yang ada didalam pusakanya dan hanya si pemilik dan keturunannya lah yang tahu siapa nama dari GANA pusaka tadi. Sebab dengan mengetahui namanya maka sang pemilik tadi bisa memanggilnya didalam keadaan terdesak.

Semangat ini sering digunakan juga sebagai media oleh para BELIAN/ BOBOHIZAN untuk berkomunikasi dengan TUHAN. Misal dalam keyakinan Dayak Kadazandusun ketika mereka dalam keadaan “MINDAKOD”, mereka menggunakan burung elang (kondiw) atau burung layang-layang (sisimbit), atau perahu layar untuk naik ke Libabou / Khayangan. Mindakod adalah suatu keadaan ritual momolian kaum Dayak Dusunic Sabah di mana, saat itu roh dan jiwa Bobolian akan menuju ke alam di mana Kinorohingan (Tuhan kaum Dusunic) tinggal yang disebut “Libabou” atau surga tingkat ke-7. Yang akan mengiringi roh/jiwa Bobolian adalah semangat Komburongoh (Jimat). Semangat Komburongoh adalah ciptaan Kinorohingan untuk membantu Bobolian dalam melakukan ritual-ritual.

Komburongoh

Komburongoh

Penyang

Penyang

Semangat ini tidak selalu mendiami pusaka berupa senjata, Ia bisa mendiami Penyang / Kamabrungoh (Jimat), Minyak, anyaman-anyaman motive sakral, kain tenun dengan motive sakral. Contohnya baju tradisi Dayak Dusunic Sabah yang disebut “Bayangkis”. Seorang gadis Dusun Lobou yang dipakaikan kain Bayangkis harus diiringi dengan lagu tradisional nenek moyang bagi menghormati semangat yang terdapat pada kain Bayangkis tadi. Sebab setiap kain tenun ” Bayangkis” dipercayai punya semangat yang akan menjaga si pemakainya.

Tenun " Bayangkis"

Tenun ” Bayangkis”

Bagi orang Dayak tidak ada hari khusus untuk memberikan perawatan pusaka seperti didalam budaya Jawa semisal tiap malam Jumat Keliwon, tetapi ada juga yang melakukannya setiap Bulan Purnama namun menurut penulis itu lebih karena kebiasaan saja. Namun pantangan yang harus diketahui yaitu jangan mempermainkan dan menganggap sepele benda-benda pusaka, juga jangan melangkahi ataupun mentertawakan si pemakai pusaka berupa penyang didepan umum karena penyang adalah lambang keberanian artinya dengan menghina penyang sama saja menghina suku dan hukum Dayak. Sangsinya pada jaman dahulu sama dengan jika menghina kepala suku yaitu dihukum mati.

Tidak selalu kita akan melihat suatu manifestasi pada suatu benda yang dianggap “BEGANA” – menurut penulis ini lebih pada suatu bentuk kepercayaan, namun demikan ada pula bentuk-bentuk manifestasi dari benda-benda yang memiliki GANA ini, baik itu hasil foto yang tidak bisa menangkap gambarnya atau juga benda tersebut bergerak-gerak sendiri, ada juga yang melalui mimpi atau penampakan yang hanya dilihat oleh sang pemiliknya. Berikut beberapa dokumentasi benda-benda pusaka yang memiliki gana:

Foto Balanga/Tajau/Martavan/Guci Dayak yang memiliki GANA atau Semenget atau Ruh didalamnya. Foto diambil tanpa rekayasa. Orang Dayak biasanya sangat menghargai Tajau, dan seringkali ia menjadi benda pusaka yang pada jaman dahulu sering dilakukan ritual untuk memberi makan atau membersihkannya. Dipercaya semangat yang ada didalam Guci tadi bisa menjaga pemiliknya atau bahkan kampungnya.

Foto Balanga/Tajau/Martavan/Guci Dayak yang memiliki GANA atau Semenget atau Ruh didalamnya. Foto diambil tanpa rekayasa. Orang Dayak biasanya sangat menghargai Tajau, dan seringkali ia menjadi benda pusaka yang pada jaman dahulu sering dilakukan ritual untuk memberi makan atau membersihkannya. Dipercaya semangat yang ada didalam Guci tadi bisa menjaga pemiliknya atau bahkan kampungnya.

 

 

Iklan