KISAH ANSAMUNG AKI SARAGON DAYAK RUNGUS NORTH BORNEO


KISAH ANSAMUNG AKI SARAGON DAYAK RUNGUS NORTH BORNEO

Oleh: Aki Rumantai

Suku Dayak Rungus

Suku Dayak Rungus

Kaum Dusunic, satu kaum yang mayoritasnya menetap di North Borneo. Mereka merupakan bangsa yang damai dan tidak agresif. Mereka secara politis, tidak sekuat bangsa-bangsa lain seperti Brunei, Sulu, Bajau dan Iranun. Hampir kesemua suku-suku Dusunic tidak memiliki sistem politik monarki entah itu sistem kerajaan maupun kesultanan, kecuali ada beberapa suku Dusunic seperti Bisaya di Kalias dan Tutong di Brunei yang memiliki sistem kerajaan, selain itu diduga kaum Lotud juga pernah memiliki kerajaan di sekitar Tuaran dan Tambunan. Maka karena tidak memiliki sistem politis monarki, maka mereka tidak memiliki tendensi untuk menjajah dan meluaskan kekuasannya, sebaliknya mereka sering menjadi sasaran penjajahan dan perluasan kuasa oleh bangsa-bangsa lain yang lebih stabil politiknya. Mekanisme mereka selalunya bertahan terhadap serangan luar, dan ketika sudah tertindas barulah akan menggunakan kekuatan politik tribalisme dengan ikatan “kinship” melalui “Sinakagon” untuk mempertahankan diri terhadap ancaman musuh.

Dayak Rungus merupakan salah satu suku dalam rumpun Dusunic, mereka bangsa yang mendiami kawasan paling utara North Borneo. Bermula pada abad-13, suku ini sudah mengalami ancaman daripada dua kuasa, iaitu dari Brunei dan Sulu yang ketika itu bersaing untuk menjajah North Borneo, walaupun akhirnya kedua-dua kuasa ini tidak berjaya memasuki wilayah kaum Rungus. Keadaan bertambah parah pada sekitar abad-18, suku Dayak Rungus yang kebetulan menetap di kawasan paling Utara North Borneo terpaksa menghadapi empat kuasa, yaitu, dari Syarif Osman yang mengelarkan dirinya Sultan di Marudu; dari kaum Bajak Laut seperti Balingingi, Samal, Iranun dan Suluk; juga ancaman dari cubaan perluasan kuasa dari Kesultanan Brunei dan Kesultanan Sulu. Pada abad-18, terdapat segolongan kecil dari tokoh-tokoh Rungus yang memiliki sejenis ilmu yang dipanggil “Ansamung” Mereka merupakan orang yang telah mencapai tingkat ilmu yang paling tinggi. Ansamung ini terbahagi kepada dua aliran, iaitu : Ansamung Rahat dan Ansamung Putanaon. Ansamung Rahat bererti orang yang memiliki kelebihan bertempur di laut, semantara Ansamung Putanaon pula kelebihannya adalah di darat. Orang yang memiliki ilmu ini amat sulit untuk ditewaskan dan ilmu ini hanya dipakai untuk melindungi masyarakat dari ancaman dari kuasa luar.

Sekitar abad-18, hiduplah seorang tokoh Rungus yang memiliki kelebihan ilmu Ansamung, iaitu Aki Saragon. Zaman kekuasaan Aki Saragon di pantai-pantai Kudat adalah kira-kira pada zaman kekuasaan Syarif Osman. Ketika itu, syarif Osman berkuasa di kawasan-kawasan yang bernama : Udat, Milau, Lotong, Anduan, Metunggong, Bira’an, Tigaman, Taminusan, Bintasan, Bingkungan, Panchur, Bungun dan Tandek. Dia juga memiliki pengaruh di kawasan Bangkoka, Kg. Parapat dan Pulau Tambun yang terletak di muara Sungai Bandau. Di zaman ini juga, aktiviti para bajak laut yang didukung oleh Syarif Osman, dilakukan di daerah-daerah pesisir North Borneo. Aki Saragon merupakan seorang pahlawan Rungus yang memburu dan membunuh bajak laut secara solo yang datang dan mendarat di pesisir pantai Kudat seperti Torungkongon, Badarag, Sikuati, Sampang Magazou serta di lokasi Pantai di kawasan Bandar Kudat saat ini. Saat keluar memburu bajak laut, dia tidak akan membenarkan seorang pun untuk mengikutinya. Karena ketika orang dikuasai oleh ilmu Ansamung, dia tidak dapat membedakan lagi antara kawan dan lawan.

Aki Saragon merupakan salah satu pahlawan legendaris dari daerah Kudat. Salah satu kisah Aki Saragon bertarung melawan musuh adalah ketika sekumpulan bajak laut dari kaum Bolongingi dan Sulug mendarat di satu kawasan pesisir pantai di Kudat. Aki Saragon telah mengambil perahu mereka dan memacakkannya di darat supaya tidak ada yang dapat melarikan diri. Aki Saragon menyerang para para bajak laut tanpa menggunakan sebarang senjata, dia hanya menggunakan tangannya mencabut kepala musuh dan meminum darah musuh yang dibunuhnya. Perahu para bajak laut yang datang ke darat selalunya terdiri dari 8 sehingga 12 orang, dan semuanya habis dibunuh setiap kali mereka mendarat di pesisir pantai. Menurut legenda, setiap kali Aki Saragon selesai membunuh setiap bajak laut yang ditemukannya di pesisir pantai, dia akan masuk ke dalam hutan untuk menghilangkan atau memulihkan dirinya dari kuasa Ansamung bagi mengembalikan dirinya pada asal. Selalunya, ketika Aki Saragon dikuasai oleh ilmu Ansamung-nya, dia akan menjadi manusia yang sangat garang dan menakutkan, tubuhnya dapat berubah bentuk, misalnya berubah menjadi besar dan tinggi.

Pada zaman Syarif Osman pula, Aki Saragon merupakan salah satu penentang keangkuhan kepemerintahan Syarif Osman semasa memerintah kawasan Marudu sekitar tahun 1830-1845. Ketika itu, Syarif Osman yang berketurunan Arab ini memiliki pasukan sehingga mencapai 5000 orang dari pelbagai bangsa (Dusun, Iranun, Bajau dan Suluk) sehingga dia cukup mampu untuk berkuasa di kawasan paling Utara North Borneo. Syarif Osman mengangkat dirinya sebagai Sultan, sehingga Kesultanan Brunei dan Sulu merasa terancam. Syarif Osman telah menunjukkan kekuasaannya dengan memerintahkan semua penduduk di Marudu dan Kudat untuk membayar cukai kepadanya. Kaum Dayak Rungus diwajibkan membayar cukai padi sebagai cukai perlindungan di bawah kekuasaan Solutan (Sultan Syarif Osman). Akan tetapi, suku Rungus tahu bahwa orang-orang yang sering merompak dan membunuh orang Rungus itu adalah orang suruhan Solutan (Sultan) sendiri yang oleh suku Rungus yang dipanggil “Uripon” Orang suruhan Syarif Osman yang bernama Uripon ini berasal dari kaum Bolongingi dan Sulug.

Ketika itu, penduduk tempatan takut terhadap Syarif Osman kerana dia memiliki angkatan perangnya yang mencapai hingga 5000 orang dengan senjata api yang lengkap berupa senapang dan meriam. Syarif Osman juga suka mengumpulkan para pahlawan-pahlawan yang berilmu tinggi dari pelbagai bangsa untuk memperkuatkan pasukannya, sehingga ada mengatakan bahwa Syarif Osman memiliki Uripon yang bertanggungjawab sebagai pengawal peribadinya yang dapat memasak nasi di atas pahanya. Kekejaman Syarif Osman yang paling ditakuti adalah, setiap penentang Syarif Osman akan dibunuh, kemaluannya dipotong dan dipamerkan sebagai cara untuk menakutkan para penentangnya. Syarif Osman juga membenarkan setiap tenteranya yang berbangsa Dusun untuk memotong kepala musuhnya untuk disimpan sebagai trofi kegagahan. Akan tetapi, kebanyakan suku-suku Dusunic di zaman Syarif Osman tidak menyukainya dan ada yang menentang Syarif Osman, salah satunya adalah Aki Saragon.

Pada suatu hari, datanglah Uripon Syarif Osman ke rumah panjang Rungus untuk memungut cukai. Maka ketika itu, Aki Saragon telah memikirkan sebuah rancangan penentangan terhadap Syarif Osman. Aki Saragon menyuruh penghuni rumah panjang untuk memasukkan padi sebanyak tiga guni dengan mencampurkannya dengan “apo parai (ampas padi)” padi itu kemudian diserahkan kepada orang suruhan Syarif Osman . Padi itu dibawa ke pengkalan Syarif Osman di Marudu, setelah guni itu dibuka, alangkah terkejutnya mereka kerana mendapati padi yang di dalamnya sebahagian besarnya hanyalah hampas padi. Syarif Osman merasa sangat marah, pada keesokan harinya Syarif Osman menyuruh Uriponnya untuk kembali ke rumah panjang untuk memberitahu kepada Aki Saragon supaya bertemu dengannya di Tunan (tamu). Tunan bererti tempat orang bertemu untuk memperjual belikan barang dan ketika itu terdapat tiga Tunan, iaitu : Tunan Bulugu (pusat), Tunan Tungkang Badarag Sikuati dan Tunan di Kg. Merbau di teluk Marudu. Namun tidak dapat dipastikan di mana tempat pertemuan Aki Sorogon dengan Syarif Osman.

Pada pertemuan itu, Aki Sorogon telah datang seorang diri dengan membawa senjata berupa pedang yang dipanggil “Wuhavon/Vuhavon” Syarif Osman pula datang membawa Uriponnya yang terkenal kebal, berilmu tinggi dengan membawa senjata berupa pedang. Dalam pertemuan itu, Syarif Osman bertanya kepada Aki Saragon, mengapa dia memberikan padi yang dicampurkan dengan hampas padi. Aki Saragon mengatakan bahwa kaum Rungus tidak berhutang apa-apa dengannya, dan padi yang dicampur dengan hampas padi itu adalah pemberian yang layak untuknya. Seorang Uripon Syarif Osman tidak berpuas hati dengan Aki Saragon lalu menghunus pedangnya untuk menetak Aki Saragon. Akan tetapi, pada jarak 2-3 depa, Uripon Syarif Osman itu tiba-tiba rebah termuntah darah lalu serta merta meninggal tanpa sempat menetak Aki Saragon; Syarif Osman terkejut dengan kehandalan Aki Saragon. Syarif Osman mengamat-amati Wuhavon Aki Saragon yang bahagian tajamnya Cuma 1 inci, semantara pedangnya jauh lebih tajam dari pedang Aki Saragon. Maka Syarif Osman pun meninggalkan Aki Saragon dengan perasaan takut tanpa sepatah katapun. Sejak itu, tidak ada Uripon Syarif Osman yang berani datang ke rumah panjang Aki Saragon dan mereka bebas dari kekuasaan Syarif Osman.

Aki Saragon pula secara rutin terus menerus meronda kawasan pantai Kudat yang dikuasainya dan setiap kali bertemu bajak laut, mereka akan habis dibunuh olehnya. Kaum Rungus tidak mengoleksi tengkorak musuh di rumah-rumah panjang mereka, mereka selalunya memenggal kepala bajak laut dan memacakkanya di tepi pantai sebagai amaran kepada para bajak laut supaya jangan berani-berani naik ke darat.
__________________________________________

1. Kisah hasil gubahan dari article Yadiw Kimi.

2. Foto suku Dayak Rungus sumber: http://www.mysabah.com/wordpress/sabah-longhouse-rungus/

 

Tabe

Iklan