SEJARAH BUKIT HINDU PALANGKARAYA


SEJARAH BUKIT HINDU PALANGKARAYA

Pura Pitamaha Kinibalu Palangkaraya (c) kalteng.tribunnews.com

Pura Pitamaha Kinibalu Palangkaraya
(c) kalteng.tribunnews.com

Kalau folks berasal dari Palangkaraya atau bermain ke Palangkaraya ada suatu kawasan yang dikenal orang dengan nama BUKIT HINDU – kebetulan admin penulis tinggal di kawasan Bukit Hindu ini. Dahulu saya berfikir nama yang disebut Bukit Hindu ini akibat adanya bangunan Pura disekitar kompleks ini tepatnya di jalan Kinibalu dan hampir semua jalan di kompleks ini menggunakan nama-nama gunung / bukit. Ternyata sejarah nama bukit hindu ini tidak ada hubungan sama sekali dengan bagunan Pura ataupun nama jalannya.

Kita trace back pada masa awal Kota Palangka Raya hendak didirikan, awalnya luasan Kota Palangka Raya ditetapkan adalah 60 x 40 km, namun yang disebut kota pada masa itu adalah kawasan Desa Pahandut, yakni sebuah urban area yang dibangun di areal dataran tinggi dengan tanah pasir yang disebut kawasan BUKIT JEKAN yang membentang dari belakang Desa Pahandut arah Selatan dan Barat Laut, dan meliputi pula dataran rendah mulai dari Danau Seha pinggir Sungai Kahayan.

Kawasan yang ditetapkan menjadi kawasan hunian kala itu adalah kawasan yang kala itu disebut dengan BUKIT TINDUH – karena pada masa lalu kawasan ini adalah kawasan yang sejuk dan asri dan juga teduh. Itulah yang dimaksud dengan kata TINDUH yang juga berasal dari ungkapan MANTUH TINDUH yang menunjukan kesempurnaan, keanggunan seorang wanita. Kawasan Bukit Tinduh adalah sebuah tanah pematang di Bukit Jekan. Pada jaman dahulu menurut kisah orang tua admin, di Kawasan ini sebelum menjadi kawasan perumahan yang ramai masih dapat ditemukan Orang Hutan dan juga tempat orang untuk berburu. Areal di Jalan Bukit Raya jaman dahulu adalah kawasan hutan – kebetulan orang tua admin adalah salah satu penghuni awal di Kawasan Bukit Raya ini.

Lalu bagaimana perubahan nama dari BUKIT TINDUH menjadi BUKIT HINDU??

Konon pada waktu dibuat surat keputusan tentang penetapan status tanah dan pemberian nama kawasan yang diketik didalam sheet stencil dan ditanda tangani oleh Gubernur Tjilik Riwut terdapat kesalahan penulisan yang seharusnya BUKIT TINDUH menjadi BUKIT HINDU, namun karena surat keputusan ini sudah terlajur disebarkan kepada fihak-fihak yang terkait kala itu maka surat itu kemudian tidak diralat atau direvisi oleh staf Gubernur.

Juga makna kata Hindu didalam bahasa Dayak juga memiliki artian yang bagus artinya “Bersama sang-ibu”, sehingga kawasan itu memiliki makna lingkungan hunian yang tenang ibarat dalam naungan sang ibu sehingga kawasan itu menjadi kawasan yang tenang dan nyaman untuk ditinggali warganya. Benar saja, menurut admin kawasan Bukit Hindu adalah salah satu kawasan yang tenang dan nyaman untuk ditinggali – karena kebetulan rumah orang tua admin berada di kawasan Bukit Hindu ini. Untuk kawasan Pura yang ada di jalan Kinibalu ini adalah bangunan baru setelah penetapan nama kawasan ini. Pura Pitamaha namanya, dibangun sekitar tahun 1970an oleh transmigran Bali yang sampai saat ini banyak tinggal dikawasan belakang Pura. Sehingga kemudian orang berfikir nama areal Bukit Hindu ini dikaitkan dengan keberadaan rumah Ibadah agama Hindu Bali.

Tabe

Iklan