PAMERAN PUSAKA DAYAK – SwissBell Danum Hotel Palangkaraya


PAMERAN PUSAKA DAYAK – SwissBell Danum Hotel Palangkaraya

pameran-pusaka

Dalam rangka menyambut Hari Kesetiakawanan Nasional yang dirayakan di Kota Palangkaraya pada tanggal 20 Desember  2016, maka Komunitas FOD bekerjasama dengan Forum Pariwisata Kota Palangkaraya dan SwissBell Danum Hotel Palangkaraya serta Luwansa Hotel mengadakan Pameran Pusaka Dayak.

Tujuan kita mengadakan pameran ini selain untuk meramaikan suatu event nasional juga adalah sarana edukasi budaya baik kepada tamu-tamu dari daerah lain dan manca negara juga bagi anak-anak muda Dayak itu sendiri.

Pemahaman akan pusaka yang melulu pada sifat mistismenya membuat pusaka-pusaka ini kemudian berubah menjadi sesuatu yang menakutkan atau kemudian tidak diketahui lagi cara pembuatannya lagi bahkan tidak sedikit yang kemudian dijual kepada orang lain / asing sehingga banyak sekali pusaka-pusaka Dayak yang bernilai seni tinggi tidak lagi dimiliki orang Dayak atau tidak lagi berada di Kalimantan.

Kita memiliki suatu pemahaman bahwa yang namanya pusaka tidak mesti berbentuk benda, ia bisa non benda yang DITURUNKAN dari generasi ke generasi sebagai ujud cerita sejarah, intelektualitas, karya seni cipta rasa dan karsa, identitas dan kebanggaan keluarga atau suatu kelompok. Lah kok non benda?? ya.. misalnya tari-tarian – ia juga dapat disebut pusaka yang diturunkan, petuah-petuah. Pusaka juga tidak melulu senjata atau jimat, ia bisa juga berupa obat-obatan tradisional, kemampuan menganyam tikar atau disebut “mandare”, perhiasan seperti manik, gelang, kalung dll, termasuk tanah adalah juga pusaka yang diturunkan untuk dijaga. Initinya yang masuk dalam kategori pusaka bahwa hal tersebut memiliki cerita, sejarah, nilai, sebuah karya dan identitas.

Pemahaman tentang pusaka kemudian berubah pada kalangan Dayak, ia tidak dianggap lagi sebagai suatu yang memiliki cerita sejarah, tetapi sebagian bergeser menjadi melulu hanya sifatnya “magis”, sebagian lagi berubah menjadi suatu aset yang bisa diperjualbelikan. Padahal yang namanya pusaka itu tidak dapat diperjulbelikan namun diturunkan kegenerasi selanjutnya. Mungkin hal ini juga berubah akibat pemahaman agama-agama yang baru kemudian dianut oleh orang Dayak, yang memandang dari kacamata yang sempit bahwa itu adalah bentuk “klenik”, Syirik, Okultisme. Sehingga banyak pusaka-pusaka ini dimusnahkan dan dibakar.

Acara pameran kali ini kita menampilkan beberapa koleksi menarik seperti senjata Dayak selain Mandau yang beberapa kita beli lagi dari kolektor asing sebab sudah hampir tidak ada lagi yang mampu menempa besi secara tradisional dalam kalangan Dayak.

Pada acara ini juga kami menampilkan seni bela diri Dayak seperti Kuntau dan Kinyah Mandau bersama Sanggar Marajaki – seni bela diri ini sendiri sudah sangat sedikit yang bisa melakukannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Banyak sekali para tamu yang penasaran mengenai pusaka Dayak ini beberapa diantaranya adalah para pasukan pengamanan presiden, tamu-tamu hotel dan banyak sekali tamu mancanegara. Salah satunya adalah seorang tamu dari Australia, beliau bahkan mengalami secara pribadi suatu pengalaman spiritual yang mendalam ketika mendatangi acara pameran ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa koleksi yang kita pamerkan dalam acara pameran pusaka Dayak adalah:

Senjata Tangkitn atau disebut Parang Pandat – ini adalah senjata khas rumpun Dayak Darat seperti Kanayatn, Belangin, Salako (Sarawak), senjata ini awalnya dikoleksi oleh kolektor eropa di Belanda. Jenis senjata ini masih original penempaannya dan bahkan dibagian gaganya dihiasi oleh gading gajah.

Felepet atau disebut juga Pakayun – ini adalah senjata Dayak yang masuk pada rumpun Katana, ia dikenal oleh Dayak Lun Dayeh, Lun Bawang, Murut (sabah).

Sadop – adalah senjata ritual Dayak bagian tenggara, selatan dan tengah Kalimantan – bentuknya unik segitiga dengan tajam kedua sisinya

Dohong – ini adalah salah satu senjata tertua Dayak Ngaju – Ot Danum, senjata ini adlaah senjata ritual bahkan inilah senjata sebelum era mandau, didalam beberapa cerita tutur senjata inilah yang digunakan oleh tokoh-tokoh Dayak Ngaju – Ot Danum, semisal kisah Sahawong melawan Raja Iblis yang banyak memakan manusia.

Keris – Orang hanya mengetahui bahwa keris hanyalah milik orang Jawa, padahal Dayak juga mengenal keris atau disebut KARIH – seperti dalam kalangan Dayak Maanyan, Dusun, Bakumpai dan Ngaju

Mandau – Dikoleksi ini juag ditampilkan beberapa koleksi mandau – seperti Mandau Sanaman Montalat, Mandau Puruutn, Mandau Kenohong – yaitu mandau untuk kasta tertinggi bagi kalangan Dayak Benuaq dan Bahau, Mandau Kahayan, Barito, Mandau Jimpul – Dayak Iban, Mandau Kapuas, Mandau Rungan, bahkan bilah mandau batu yang gagangnya terbuat dari tulang femur manusia.

Penyang – beberapa penyang ini adalah pinjaman dari seorang arkeolog di kota Palangkaraya (Gauri Rampai), yaitu berupa PATUNG KARUHEI. Jenis ajimat ini sudah sangat langka. Ia digunakan sebagai pelindung rumah betang, pengusir hama dan juga untuk mendatangkan rejeki bagi sang pemilik.

Jenis-jenis tombak – berupa rabayang, duha, sumpit dll

Tenunan Dayak – Orang banyak tidak tahu bahwa orang Dayak mengenal tenunan, seperti bagi kalangan Dayak rumpun Ibanic mereka mengenal tenun pua kumbu, atau Dayak Benuaq yaitu tenun ulap doyo. Dalam kalangan Dayak Ngaju seni tenunan inipun sudah punah hanya tersisa beberapa artifact. Dalam proses penenunan ini Orang Dayak Desa memiliki beberapa pantangan terutama untuk motive-motive yang bersifat sakral, ia hanya bisa ditenun oleh seorang wanita yang telah munopuse dan anak bungsunya sudah menikah.

Talawang – beberapa jenis perisai asli Dayak yang dihiasi ornamen-ornamen khas Dayak, dan salah stau perisai dihiasi rambut. Pada jaman dahulu perisai yang dihiasi rambut adalah rambut para korban yang berhasil dia kalahkan didalam peperangan atau kayau.

Guci-guci – beberapa jenis guci yang dianggap sakral bagi orang Dayak.

Sebenarnya masih banyak jenis pusaka Dayak lagi yang mesti akan diangkat, rencananya tahun 2017 ini kita akan membuat kegiatan serupa di Kalimantan Barat. So jika folks berasal dari Kalimantan Barat dan ingin bergabung jangan ragu. Kegiatan yang kita lakukan ini adalah swadaya, murni sebagai bentuk kecintaan dan kepedulian- bukan karena kita merasa bahwa FOD lebih faham akan budaya Dayak atau merasa lebih SAH sebagai orang Dayak. Sebab jika bukan kita siapa lagi yang akan mau peduli. Tabe…

 

 

 

Iklan