SUSUNAN PEMERINTAHAN SIPIL PADA JAMAN PENJAJAHAN BELANDA DI KALIMANTAN PADA 1863


SUSUNAN PEMERINTAHAN SIPIL PADA JAMAN PENJAJAHAN BELANDA DI KALIMANTAN PADA 1863

BANJARMASIN

kuin

Sungai Kuin

Pada jaman doloe folks, penjajah Belanda disebut dengan Kompeni Wolanda (Belanda) – semenjak pemerintahan Belanda berhasil menancapkan kakinya di Kalimantan dan dibubarkannya Kerajaan Banjar – yang kapan-kapan akan kita share kisahnya, maka Pemerintahan Kompeni di Banjarmasin dibagi dalam dua bagian: PEMERINTAHAN PUSAT dan PEMERINTAHAN DAERAH.

Pada Pemerintahan Pusat dibentuklah DEWAN PENGADILAN yang mempunyai 8 orang anggota, yang terdiri atas orang Banjar, Dayak, Arab dan Tionghoa dan tentunya 1 Presiden orang Wolanda.

Susunan Dewan selengkapnya adalah sebagai berikut:

  1. Kolonel E.C.F Happe (Presiden)
  2. Pangeran Sjarif Husin bin Muhammad Bahrun (Anggota)
  3. Kiai Ronggo Tanu Karsa (Anggota)
  4. Said Idrus bin Hasan Alhabsi (Kepala Arab)
  5. Hadji Isa bin Ta’al (Temenggong Dayak Laksamana)
  6. The Tjin Yang (Kapitan Tionghoa)
  7. Teng Kim Guan (Letnan Tionghoa)
  8. U Pik Lim (Anggota)
  9. Lie Bun Kim
  10. Pangeran Suria Winata (Hop Djaksa)
  11. Hadji Muhamad Amin (Hop Penghulu)
  12. K.W. Tiedtke (Gripir)
  13. J.F.L. Wolf (Derwader)

Sedangkan Pemerintahan Daerah berkedudukan dikampung KUIN – Sungai Miai. Kepala yang menjalankam pemerintahan seorang Asisten Residen J. Faes, yang dibantu oleh:

  • Kontelir O.M. de Munnick
  • Ronggo Temenggong Tanu Karsa
  • Mufti Hadji Muhammad Amin
  • Penghulu Hadji Muhammad Abu Sohot
  • Poshodar M. Rozenboom
  •  Wk. Poshodar di Mantuil – F. Serquet

MARTAPURA

martapura

Sungai Martapura 1880-1920

 Untuk Pemerintahan jajahan bagian sipil dimulai dalam tahun 1865 tanggal 19 Juli. Susunan Pemerintahan adalah sebagai berikut:

  • Kapitan C.J. Meyer – Kepala Militer & Sipil
  • B.J Suringa – Pembantu bagian sipil
  • Pangeran Djaja Pamenang – Regen
  • Raden Rastan – Djaksa
  • Hadji Muhamad Chalid – Mufti
  • Kiai Suta Marta – Kepala Distrik
  • Hadji Machmud – Penghulu

Daerah yang termasuk dalam daerah Martapura: Riam Kiwa, Riam Kanan (Karang Intan), Mergasari dan Banua Ampat (Rantau).

Riam Kiwa dan Riam Kanan dibawah kekuasaan Kontelit Van der Stok dan dibantu oleh:

  • Kiai Suta Leksana – Kepala Distrik Riam Kiwa
  • Kiai Kadir – Kepala Distrik Riam Kanan
  • Hadji Muhamad Ali – Kepala Distrik Riam Kiwa
  • Hadji Jahja – Kepala Distrik Riam Kanan

Mergasari dan Banua Ampat dibawah kekuasaan Kontelite J. Meyer dan dibantu oleh:

  • Kiai Duhusin – Kepala Distrik Mergasari
  • Andin Njamat – Kepala Distrik Banua Ampat
  • Hadji Abdul Wahid – Pengulu Mergasari
  • D.C.B Scheffer – Kepala Tjukai Mergasari
martapura2

1905-1914. Warung di sepanjang sungai Martapura

AMUNTAI

Susunan Pemerintahan sipil dimlaui tanggal 21 Maret 1865. Yang masuk dalam daerah Amuntai adalah Alai, Amandit, Tabalong dan Kalua. Sebagai kepala pemerintahan seluruhnya adalah Asisstent – Residen K.W. Tiedtke dan dibantu oleh:

  • Kiai Temenggung Djaj Negara – Regen Amuntai
  • Mas Retno Kasuma – Djaksa Amuntai
  • Hadji Muhamad Talib – Mufti Amuntai
  • Kiai Warga Kasuma – Kepala Distriik Amuntai
  • Hadji Sapihudin – Penghulu Amuntai
  • Kiai Suta Sani – Kepala Distrik Nagara
  • Hadji Djahidin – Penghulu Nagara
  • Kiai Raden Mas Wira Yuda – Kepala Distrik Balangan
  • Tuan Balundi – Penghulu Balangan

Alai dan Amandit dibawah kekuasaan Konselir K.van der Heyden dibantu oleh:

  • Kiai Demang Mangun Yuda – Kepala Distrik Tabalong
  • Hadji Panduh – Penghulu Tabalong
  • Kiai Taher – Kepala Distrik Kalua
  • Hadji Abdul Madjid – Penghulu Kalua
barabai

Keluarga di Barabai

BAKUMPAI

Daerah ini dibawah kekuasaan Letnan F.M Verspyck sebagai Sipil Gesahebar, dibantu oleh:

  • Kiai Demang – Kepala Distri Marabahan
  • Temanggung Djaja Karsa – Kepala Distrik Dusun Hilir (Buntok)
  • Kiai Rangga Niti – Kepala Disttrik Dusun Ulu (Muara Teweh)
bakumpai

Orang Dayak Bakumpai jaman kolonial Belanda

DAERAH KALIMANTAN SELATAN

Susunan pemerintahan sipil didaerah Selatan dimulai dalam tahun 1865 dibawah kekuasaan Letnan P.J Meyboom sebagai Gesahebar dibantu oleh :

  • Kepala-kepala suku di Sampit.
  • Kepala-kepala distrik di Mentaya, Tjampaga, Kwayan, Pembuang, Sambulu, Sarayan, Mandawai, dan Katingan.
  • Pangeran Paku Sukma Negara, wakil Radja Kotawaringin (sementara Radja Muda, Pangeran Tengah belum cukup umur untuk dinobatkan menjadi raja Kotawaringin).
  • Pangeran Sjarif Usman bin Hassan Alhabsi, sebagai Pangeran Bandahara di Kumai.

DAJAK BESAR

bangsawan-dayak

Empat orang berdiri di belakang lima pot suci Gubernur Daerah untuk Pangkoh Sungai Kahayan Lima “suci” pot Gubernur Daerah untuk Pangkoh Sungai Kahayan, Kalimantan Selatan yang dan Oosterafdeling, sekitar th. 1915

 

Susunan Pemerintahan sipil didaerah Dajak Besar dimulai dalam tahun 1863 dibawah kekuasaan Letnan LJ. Blok sebagai Gesaheber. Tempat kedudukan Pemerintahan Sipil Dayak Besar ada di Pangkuh, di muara Sungai Parambingin dan Sungai Kahajan.

  • Raden Singa Pati – Kepala Suku di Kahajan Illir
  • Temanggung Sura – Kepala Distrik Kahajan Tengah
  • Temanggung Mtjan Gunung- Kepala Suku di Kahajan Ulu
  • Matranum – Kepala Suku di Tekong
  • Demang Kertapati – Kepala Suku di Tumbang Hakari
  • Demang Sang Kurang – Kepala Suku di Betang
  • Kiai Nusa – Kepala Suku di Sungai Riang
  • Dambong – Kepala Suku di Tewah
  • Kanapi – Kepala Suku di Tumbang Karueng
  • Sontan – Kepala Suku di Hanoga

DAJAK KETJIL

Djaja Nagara.jpg

Dalam tahun 1863 mulai diadakan Pemerintahan sipil di Kwala Kapuas dibawah kekuasaan Letnan L.J.F.E von Ende dan dibantu oleh:

  • Temenggung Djaja Negara – Kepala Distrik  Kwala Kapuas
  • Temenggung Singa Djaja – Kepala Distrik Kapuas Tengah

DAERAH KALIMANTAN TIMUR – TENGGARA

Pemerintahan sipil di daerah Kalimantan Timur- Tenggara dibawah kekuasaan Asisstent – Residen G.H Dahmen di Kutai (Samarinda).

Pemerintahan swapradja dikuasai oleh:

  • Pangeran Abdul Kadir – Kepala di Pulau Laut
  • Pangeran Sjarif Hamid – Kepala di  Batu Litjin
  • Pangeran Mangku – Kepala di  Sampanahan
  • Pangeran Sjarif Ali – Kepala di  Sabamban
  • Pangeran Muda Muhammad Aribilah – Kepala di  Tjengal dan Manunggal

Note: Kiai bagi masyarakat Banjar/Kalimantan adalah gelar bagi kepala distrik (di Jawa disebut wedana), bukan ulama. Gelar ini berasal dari nama jabatan menteri pada Kerajaan Banjar. Pemerintah Hindia Belanda lalu mengalihkan nama ini untuk nama jabatan kepala distrik untuk wilayah Kalimantan.

Tabe..

Iklan