EMPAT SYAIR LAGI DAYAK SARIBAS


EMPAT SYAIR LAGI DAYAK SARIBAS

Dayak Saribas adalah rumpun Ibanic yang berada di daerah Saribas Sarawak. Sayir lagu berikut ini berupa lagu puji-pujian kepada kepala suku, lagu cinta yang biasa dinyanyikan terhadap seorang pria, dan lagu untuk anak laki-laki dan perempuan. Syair lagu ini dikumpulkan oleh beberapa penulis asing pada masa kolonial Inggris. Berikut ini syair-syair lagunya dalam bahasa Dayak Iban dan terjemahan kasarnya (perlu banyak perbaikan):

  1. LAGU PUJIAN KEPADA KEPALA SUKU

02-An-Iban-performer-at-the-Sarawak-Cultural-Village

Ai musin Nanga Jenggin, bemain sahri-hari

Ulai betandi Nanga Sarikai, segang anak pasang pagi

Enti nyema nuan tu tak “Kayu” nemu ga kami muji;

Lalu nyema ka nuan “Ganalu bungkong Tapang” rentang rentang mesan ka rantong Beliong Matu

Bedai nuan tu Unggal ti mua pemesai utai ti ba anyam jarang, Enda kala enda endor kita betunga ngadu ka Tunggu.

Bait syair lagu ini seringkali dinyanyikan didalam rumah panjang ketika tuak dibagikan oleh TUAI RUMAH – Kepala suku. Bait yang pertama adalah pujian terhadap tuak – seperti air berbuih  yang berlomba mengalir melalui tubuh seumpama pusaran air dan tuak yang ada didalam belanga adalah seumpama air yang tenang. Bait kedua  adalah pujian kepada Tuai Rumah yang diibaratkan dengan pohon Tapang, dan bait terakhir adalah pujian kepada tikar Tuai Rumah. Tuai Rumah disebutkan sebagai “UNGGAL” atau sepupu, namun jika penyanyinya ini jauh lebih muda dari Tuai Rumah, maka Tuai Rumah akan dipanggil “AYA AWAI” atau paman.

Berikut ini adalah terjemahan kasar bait diatas:

Sebuah pusaran air pada muara sungai Jenggin, terus menerus berputar-putar

Sebuah aliran air mengalir pada muara Sarikai, dalam ketenangan arus pagi

Jika engkau, Tuan, adalah sebuah pohon, kami akan tahu akan memanggilmu apa;  Kami akan memanggilmu sebagai batang pohon Tapang, yang berdiri tegak, menantikan panggilan kapak tua Matu

Engkau  tikar, sodara sepupuku, yang luas dan lebar, dan dianyam dengan kasar.

Apakah disitu engaku selalu duduk ketika menyelesaikan suatu perkara

2. LAGU CINTA

IMG_7018plr

Mua asai ati aku ti berai lebu laluba,

Skumbang sida aya Ujang belanggang ngundang aku gerunggang simbang palangka,

Keba gawa aku nyau enda rajin deka nganyam bila bemban krapa, Makai aku nyau enggai nadai utai berasai tama nyawa

Tindok aku nyau enda masok asai ti empleman bubok tama mata, Kada enda asai tu atai Endun Kumang Layang Temaga, tinggal tunang iya nandang ka sapetunggang manok banda, tinda iya ga lalu tepenselai retai laya enggau orang ka nanga Isang Ngelegetang

Terjemahan:

Hatiku dalam keadaan perih yang teramat sangat

Sejak seorang pemuda menunda kunjungannya untuk datang ke tempat tidurku;

Aku merasa kikuk dan sepi and aku telah menolak mengerjakan pekerjaan menganyam tikarku

Nafsu makanku telah meninggalkanku and tidak ada satupun yang terasa enak

Tidurkupun telah terganggu sama seperti pikiranku karena tubuh yang asing ada mataku

Mungkin inilah perasaan yang dirasakan oleh Kumang Layang Temaga ketika kekasih hatinya pergi untuk berperang dan telah kehilangan nyawanya dan terlahirkan di Isang – Ngelegetang (Surga)

3. LAGU TIMANG UNTUK MEMBUAT ANAK LAKI-LAKI MENJADI PEMBERANI DI MEDAN PERANG

iban

Pantun kena ngua anak lelaki awak ka nyadi pransang. lalu brani maia bermunsoh

Kini, kini tunga ngelantar ke sangkoh kempas? Lantar ka tisi jalai raya

Kini, kini tunga prembam dalam ambai rumpas aku nadai ditu? Iya ga di-jong Tutong nyimpong rajang begantong di padong tedong

Ka tak rengo-rengon ngua puchong sarang guna.

Kini, kini tunga ngelantar ka sangkoh lunju? Lantar, lantar ka tisi jalai ulu.

Kini tunga premban dalam ambai dulu, tuda di galai ayak gayu? Ni iya bisi ditu, iya di jong Apai Migu numpu lubang batu

Endang enda bepesu di wan Biku ngua sentika.

Kini, kini tunga aku ngelantar ka sangkoh seligi? Ka endang tajam grenyam be-api api, ka bensumbar anak

Kini, kini tunga Bujang Merti aku nadai ditu?

Iya di-jong Apai Kumpang Pali ngambi genseli, Balang Begigi, ka di wan Endu Truna Dara Merti ta begamal lanji lanji pengibun segi langit ngeruang

Terjemahan:

Kearah manakah arah perginya tombak besar itu?

Lemparkanlah ke ujung jalan raya

Bagaimanakah merawat anak kesayanganku ini jika aku tidak ada disitu?

Dia telah bergabung bersama pandai besi Tutong menebas anggrek-anggrek.

Menggantung dondang diatas loteng, dia kemudian berayun-ayun dan berkecamik sambil dia menyusun jimat-jimat yang bergantung berayun

Kearah manakah aku melemparkan tombak yang kecil?

Lemparlah sampai ia melesat ke arah hulu

Bagaimanakah mungkin ia ada disini sedangkan dia bersama Apai Migu, mencoba membuat lubang disebuah batu yang tidak dapat dilubangi – Biku sedang mengawasi siapa yang kadang menggoyangkannya

Kearah manakah aku melemparkan tombak yang terbuat dari alang-alang ini?

Itu telah ditajamkan didalam api and ia disebut yang muda dari Kranji Padi, yang berani mati melawan tebasan mata pedang besi.

Kearah manakah perginya Bujang Merti, karena ia tidak ada disini?

Dia telah pergi besrama Apai Kumpang Pali untuk mengambil roh angin dan Balang Begigi.

Ia telah diawasi oleh Endu Truna (Roh Malam), bernama Taruna Darat Merti, yang melihat ujung – ujung langit

4. LAGU TIMANG UNTUK ANAK GADIS AGAR DIA MENJADI ANAK YANG CERDAS DAN CEPAT MENDAPATKAN JODOH

sarawak-cultural-village

Lapa, lapa dara tuai laun belaki?

Jani bisi ditu kena besapat,

Anak uting bisi kami ditu ka betaring mesai kawat,

Bliong lajong bisi ditu, pemunggu urat lansat,

Sumpit tapang bisi ditu, pengrejang lubang kilat,

Pinggai besai bisi ditu, penekat tanah rarat,

Pentik landik bisi ditu, ngambi ka hari enda kudi sarat bebuat,

Kain Kerebaya bisi ditu, kenay nyapat lubang kilat,

Rangki siti bisi ditu, kena ngulu, kena ngili ka ai, awak ka enda

kudi, nadai bebali nyadi lelabi laki ngigit di kaki narit jari pun brang.

Terjemahan kasarnya:

Kenapa, kenapa perawan tua begitu lambat untuk mendapatkan suaminya?

Ini, ambilah babi yang bisa dibagi-bagikan

Ini, ambilah babi yang taringnya tidak lebih tebal dari pada kawat

Ini, ambilah kapak kecil yang dapat menebang akar pohon langsat

Ini, ambilah sumpit dari kayu tapang untuk menembus lubang kilat

Ini, hidangan besra untuk mengangkat untuk mengangkat bagian bumi yang jatuh terpecah-pecahkan (beras)

Ini, ambilah sebuah patung kayu yang pintar untuk menjauhkan kemarahan bahkan ketika engaku sarat

Ini, kain untuk menyaring lubang di mana petir bersinar

Dan ini ada kerang besar yang dapat kamu gunakan ketika engkau mendaki bukit atau ketika engaku turun ke air; supaya tidak ada yang dapat mencelakakanmu, dan tidak ada yang dapat menjadi kura-kura besar yang dapat menggigit kakimu ataupun menarik bahumu

Penjelasan kata:

  • Sangkoh kempas – adalah jenis tombak yang sangat besar, kempas sendiri terbuat dari kayu yang keras.
  • Jalai raya adalah jalan yang bagus
  • Prembam – Jatuh diatas atau sama dengan meram / ayam mengeram. Prembam juga dpaat berarti merawat dalam artian dalam dan intim – seperti dalam pelukan ibu. Prembam dalam juga berarti tindakan yg menunjukkan rasa kasih
  • Rumpas artinya belum dewasa dan kadang berarti bujangan.
  • Nadai ditu; jong berarti bergabung seseorang dalam suatu ekspedisi
  • Tutong adalah nama dewa pandai besi – dan menjadi nama yang umum untuk seorang laki-laki
Iklan