MASUKNYA ISLAM KE TANAH DAYAK BESAR


MASUKNYA ISLAM KE TANAH DAYAK BESAR

IMG_20170624_123812

Masjid Jamie – Al-Ikhlas Mandomai

Hi Folks kali ini kita akan share bagaimana proses masuknya agama Islam kedalam tanah Dayak Besar – terutama kalangan Dayak Ngaju. Namun kita akan singgung sedikit bagaimana proses Islam masuk ke Kalimantan itu sendiri.

Ada banyak teori yang mengemuka mengenai sejarah masuknya Islam ke Kalimantan – kebanyakan para ahli menyetujui bahwa Islam masuk ke Kalimantan pada sekitar akhir abad ke-15, melalui dua jalur yaitu; jalur Malaka melalui kerajaan Islam Malaka dan Pasai utamanya di daerah Barat Kalimantan (Sukadana) pada awal abad ke-16. Jalur kedua adalah melalui Pulau Jawa – semenjak berdirinya kerajaan Demak. Walaupun demikian masih ada teori lain yang mengatakan bahwa setidaknya pada abad ke-7 Islam sudah masuk Ke Pulau Kalimantan, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Batu Nisan Sandai di kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Prasasti ini bertarikh 127 Hijriah atau tepatnya 745 masehi. Adanya penemuan prasasti batu nisan bertarikh 127 Hijriah atau tepatnya 745 masehi menjawab perdebatan panjang para ahli sejarah mengenai kedatangan Islam di Indonesia. Prasasti sejarah yang ditemukan di Kecamatan Sandai ini bernilai tinggi untuk mengungkap bahwa kebudayaan Islam di Ketapang adalah kebudayaan Islam tertua di Nusantara yang datang pada abad ke-7, bukannya di Aceh, namun kemudian baru pada akhir abad ke-15 lah Islam menjadi agama kerajaan dan sekitar abad ke-18 lah Islam dikenal luas diseantero Kalimantan.

11401184_379667265567327_4364127487366420725_n

Batu Nisan Sandai

Penyebaran Islam di Kalimantan tentu tidak lepas dari jalur perdagangan sebab di Kalimantan ini sendiri berdiri bandar-bandar dagang ketika jaman-jaman Kerajaan Hindu-Budha – terutama Kalimantan juga memberikan komoditas-komoditas andalan pada masa itu seperti merica. Namun islam belumlah sepenuhnya diterima secara massive oleh masyarakat Kalimantan. Momentum penyebaran Islam terjadi semenjak Pangeran Samudera masuk agama Islam pada tahun 1526. Sebelum masuk Islam masa itu terjadi perang saudara antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung. Menyadari akan kekuatan lawan yang bakal dihadapi sangat tangguh, Pangeran Samudera minta bantuan ke kerajaan Islam Demak agar mau membantunya berperang. Kerajaan Demak bersedia membantu tapi sengan syarat bila menang nanti raja dan rakyatnya mau masuk agama Islam. Pangeran Samudera menyetujui syarat tersebut. Hingga akhirnya peperangan dimenangkannya. Pada tanggal 24 September 1526 Pengeran Samudera resmi memeluk agama Islam dan diangkat menjadi raja. Namanya pun diganti menjadi Sultan Suriansyah.

Untuk Kalimantan Tengah sendiri Islam sudah masuk semenjak datangnya mubaligh dari tanah Jawa yang bernama Kiyai Gede yang menyebarkan Islam di Kotawaringin – walaupun beberapa sumber sejarah mengatakan melalui sebuah ekspansi militer, dimana pada saat itu daerah Pangkalan Bun adalah sebuah perkampungan Dayak. Penduduk kampung tersebut enggan membenarkan para pendatang ini tinggal di sana. Oleh sebab itu mereka menghalau orang Dayak dari situ dan merampas dari mereka beberapa pucuk cantau (senapang) Cina dan dua buah belanga (tempayan Cina). Orang Dayak yang kalah tersebut berpindah ke arah barat yaitu tasik Balida di sungai Jelai dan menyebut diri mereka Orang Darat atau Orang Ruku. Namun kemudian setelah datangnya Pangeran Dipati Anta-Kasuma putera dari Marhum Panembahan (Sultan Banjar IV) datang ke Kotawaringin (sekitar 35 tahun setelah masa pemerintahan Kiai Gede) dan membuat perjanjian kesetiaan dan angkat saudara dengan orang-orang Dayak. Perjanjian ini dibuat pada sebuah batu yang dinamakan Batu Patahan, tempat dikorbankannya dua orang, di mana seorang Banjar yang menghadap ke laut sebagai arah kedatangan orang Banjar dan seorang Dayak yang menghadap ke darat sebagai arah kedatangan orang Dayak, kedua disembelih darahnya disatukan berkorban sebagai materai perjanjian tersebut. Kemudian Pangeran berangkat ke Kotawaringin di mana Kiai Gede mengiktirafkan dia sebagai raja dan dia sendiri menjabat sebagai mangkubumi. Silahkan cek:

Khusus untuk kalangan Dayak Ngaju sendiri – Admin melakukan ekspedisi ke Mandomai, sebab konon di Mandomai inilah Islam pertama kali masuk dan dikenal. Islam masuk ke Kalangan Dayak Ngaju pada akhir abad ke-18 melalui jalur perdagangan dan pernikahan.

Salah satu tokoh yang membawa syiar agama Islam ke Daerah Mandomai ini pertama kalinya adalah Haji Muhammad bin Abdullah. Beliau merantau dari daerah Martapura dengan menggunakan perahu – sesampainya di daerah Mandomai, ia kemudian memutuskan untuk menetap dan akhirnya menemukan seorang istri penduduk asli Mandomai. Isteri pertama beliau tidak mampu memberikan keturunan – maka beliau menikahi wanita lain. Pernikahan kedua ini bukan hanya sekedar untuk mendapatkan keturunan tetapi beliau menikahi untuk mengangkat derajat wanita tersebut yang berlatar belakang dari keluarga yang susah. Dari isteri keduanya inilah beliau memiliki seorang putera.

Konon ceritanya Haji Muhammad ini juga dikenal sebagai seorang yang memiliki kesaktian. Tidaklah mengherankan sebab orang-orang Dayak saat itu tertarik dengan ilmu Tasawuf dan tidak heran pula jika dalam beberapa ritual dan mentra Dayak akan kita temui kata-kata “Bismillah”. Selain sebagai seorang yang memiliki kesaktian beliau adalah seorang yang cerdas dan juga membantu mendamaikan konflik antara dua buah kampung yang bersebelahan – yaitu Kampung Saka Mangkahai dan Mandomai Hulu yang dahulu konon sering berseteru. Bahkan beliau pernah seorang diri menentang penjajahan Belanda yang mencoba menyerang Desa Mandomai ini – beberapa peninggalannya adalah meriam belanda yang saat ini sudah hilang dicuri orang yang tidak bertanggungjawab.

Dalam syiar agama yang dilakukan oleh Haji Muhammad ini beliau tidak melakukan dengan cara pemaksaan – namun murni dakwah. Hingga akhirnya tokoh Mandomai kala itu bernama Ngabe Ratu bersama Damang Tamus memutuskan untuk menjadi Islam dan mengangkat saudara dengan cara ritual Dayak – yaitu dengan darah, masing-masing orang mengeluarkan darah dari jari manisnya dan diusapkan pada daun sirih dan dikunyah bersama-sama, sebagai tanda bahwa mereka telah sama seperti sodara kandung. Ngabe Ratu ini adalah tokoh penting di Mandomai – ia kemudian memberikan sejumlah areal tanah kepada Haji Muhammad dan mewakafkan tanahnya untuk dibangunkan Mesjid pertama di Mandomai.

Dalam upayanya menyebarkan agama Islam – Haji Muhammad tidaklah seorang diri, ia dibantu oleh 3 orang lagi – 1 orang dari daerah Kuin (Kalimantan Selatan) bernama Haji Muhammad Arsyad bin Abdurahman dan dua orang asli warga Mandomai bernama Sahabu bin Muhammad Aspar dan Sahabu bin Gahfar – dan nama keempat orang ini terukir di tiang saka guru Mesjid Jamie – Mesjid pertama di daerah Mandomai ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mesjid ini dibangun pada tahun 1903 atau 7 tahun setelah beliau sampai di Mandomai. Mesjid ini dibangun dengan arsitektur khas mesjid-mesjid tua di Kalimantan atau dikenal dengan sitilah TUMPANG TALU (3) – Tumpang Talu ini adalah perlambangan Alam Atas, Alam Tengah dan Alam Bawah atau melambangkan hubungan dengan Tuhan, manusia dan semua mahluk (rahmatan lil alamin).

Tiang Saka Guru mesjid ini terbuat dari kayu ulin dan dindingnya juga terbuat dari papan-papan kayu yang disusun vertikal – karena didaerah Mandomai tidak ada kayu ulin, maka perjuangan beliau membangun mesjid ini tidaklah mudah. Beliau harus mengayuh sampan kearah Hulu Kapuas dan membawa gelondongan kayu ulin ini dengan perahu – konon diperlukan waktu kurang lebih 7 bulan untuk pulang pergi membawa kayunya saja.

Sangat disayangkan sekali saat ini masjid Jamie ini telah hilang keasliannya karena proses rehab yang mengganti bahan-bahan kayunya dengan bahan beton – bahkan kayu saka guru juga dipotong oleh warga. Menurut keturunan Haji Muhammad – akibat orang yang merubah bangunan masjid ini dan memotong tiang saka gurunya 2 orang harus kehilangan nyawa karena tertimpa runtuhan atap masjidnya.

Penulis berkesempatan untuk datang dan menziarahi makam Haji Muhammad ini – Makam ke-tiga sahabat Haji Muhammad yang lain tidak diketahui. Dan juga untuk alasan tertentu supaya makam beliau tidak disalahgunakan sebagai tempat berhajat yang tidak-tidak, maka atas permintaan keluarga beliau foto dan lokasi makam Haji Muhammad tidak akan admin postingkan. Dan memang makam beliau tidak sembarangan diberitahukan kepada yang bukan keturunan beliau – beruntung admin memperoleh kepercayaan untuk dapat berziarah.

Dalam perkembangan Islam di Mandomai – ia tidaklah menghilangkan kebudayaan dan bahasa tempatan. Menurut cerita-cerita warga, jaman dahulu warga kampung masih sering mendengarkan cerita-cerita tutur Dayak (mansana), mengacapi, karungut, badeder dll. Namun saat ini kebudayaan ini sudah relative hampir punah. Ini yang menjadi keprihatinan admin akan mulai pudarnya kebudayaan Dayak justru dikampung-kampung yang mestinya menjadi basis atau benteng terakhir akan budaya dan adat. Admin berencana hendak membuat kegiatan kebudayaan di kampung ini lagi – jika folks tertarik untuk ikut bagian jangan ragu menghubungi kita.

Dikampung ini juga masih banyak terdapat rumah-rumah dengan arsitektur Dayak – seperti Huma Hai/ Huma Gantung, dan juga terdapat Pantheon Penjaga Kampung atau Pangantuhu yang bernama RADEN INJUI AMAI GILANG. Kondisi Pangantuhu ini hampir roboh sebab tidak begitu terawat, namun sempat direhab oleh keturunan beliau. Dahulu konon dikampung ini sering orang melihat penampakan Naga di Sungai Kapuas yang adalah penjaga kampung namun saat ini sudah tidak pernah lagi ia menampakan dirinya lagi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jadi kita ketahui bahwa syiar agama Islam yang masuk ke daerah Dayak Besar tidaklah disebarkan dengan kekerasan atau paksaan melainkan lewat dakwah, ilmu tasawuf dan bahkan juga melalui ilmu silat. Seperti yang dituliskan dalam buku “Kedatangan Islam di Bumi Tambun Bungai” (Khairil Anwar 2006) – ada seorang guru silat bernama TAMIN, ia menyusuri sungai Kapuas sambil mengajarkan silat dan berdagang juga membawa syiar agama Islam. Selain itu juga melalui orang-orang keturunan Tiong Hoa seperti Haji Theo Pen Siang dan Haji Ipin Said yang membawa orang-orang keturnan Tionghoa lain masuk Islam seperti Heng Thai King dan Ban Hong.

Tabe.

Sumber

  1. Wawancara dengan keturunan Haji Muhammad
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kotawaringin
  3. Profil  Insan Muslim Kalimantan (Dolok Martimbang)

 

 

Iklan