SIKAP HIDUP ORANG DAYAK BERKAITAN DENGAN BIDANG PEREKONOMIAN


SIKAP HIDUP ORANG DAYAK BERKAITAN DENGAN BIDANG PEREKONOMIAN

Beberapa sikap hidup orang Dayak yang berkaitan dalam bidang perekonomian baik langsung ataupun tidak langsung. Tapi sudilah untuk tidak memandang sikap-sikap itu sebagai postif-negatif, konstruktif-dekonstruktif dengan tergesa-gesa dari kacamata ekonomi modern:

  1. Orang Dayak suka berbagi kemujuran dengan sesamanya. Daging binatang hasil buruan, beberapa jenis hasil tani dan hasil hutan yang mereka peroleh seringkali dibagi-bagikan kepada sesama dengan Cuma-Cuma.
  2. Sikap demokratis sebagai salah satu semangat kehidupan di rumah panjang masih dimiliki oleh sebagian besar orang Dayak, meskipun rumah panjang mereka hampir punah. Kegiatan perekonomian yang berimplikasi pada kehidupan komunal biasanya mereka musywarahkan terlebih dahulu
  3. Orang Dayak punya rasa hormat yang tinggi kepada alam lingkungan hidupnya. Pada beberapa subsuku Dayak terdapat adat yang melarang warga membuat ladang di gunung tertentu, daerah sekitar alur sungai dan ‘tembawang’, disertai sanksi-sanksi yang bersifat sakral. Berdasarkan pengalaman, mereka mengetahui bahwa keseimbanan alam harus selalu dipelihara, terutama memelihara jantung-jantung konservasi
  4. Bagi orang Dayak, musuh yang dikenal hanyalah musuh yang menyerang mereka secara fisik. Oleh sebab itu, orang lain yang datang untuk menghabisi hutan, menggunduli gunung, mengambil tembawang atau merusak sungai di lingkungan hidup mereka tidak mereka identifikasikan sebagai musuh, sehingga mereka merasa tidak perlu melawan kejahatan mereka.
  5. Tidak biasa menabung atau merencanakan masa depan. Orang Dayak belum banyak meninggalkan sifat sebagai manusia peramu. Kebiasaan menyimpan padi di lumbung bukan dimaksudkan untuk menabung, tetapi sekedar menyimpan padi untuk keperluan satu tahun siklus perladangan mereka. Menabung dalam arti menyimpan untuk masa depan dengan mempertahankan atau menambah nilai ekonomis simpanan belum menjadi kebiasaan mereka.
  6. Manja pada alam, karena terbiasa dengan mudah memperoleh sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan daging binatang yang tersedia di alam sekitarnya.
  7. Tidak mengenal system dagang, baik di kalangan mereka sendiri maupun dengan kalangan luar. Apabila mereka pergi menukarkan hasil hutan atau hasil tani, maka itu dilakukan dengan sikap “terserah kepada taoke” (Kanayatn : ahe-ahe ja toke), artinya terserah kepada pihak lain untuk menentukan. Orang Dayak juga belum dapat memahami hubungan antara waktu dan nilai ekonomis suatu jenis barang.
  8. Suka merendahkan diri dengan bersikap low profile, tidak pandai menawarkan jasa dengan mempertontonkan keterampilan atau kebolehannya. Dalam menghadapi persoalan, orang Dayak lebih suka memilih berdiam diri, sambil berharap agar orang lain dapat menyelami apa keinginan mereka. Menuntut hak hampir tidak dikenal dalam sikap hidup orang Dayak.
  9. Orang Dayak gampang iri hati kepada orang sesuku. Sesama orang Dayak yang nampak lebih maju (kaya) biasanya dianggap tidak wajar dan sebaiknya dijauhi. Bila disuatu desa Dayak ada seorang pedangan Tionghoa dan beberapa pedagang Dayak dibolehkan bersaing secara bebas maka hampir dapat dipastikan pedagang Tionghoalah yang akan unggul, karena rasa iri hati masyarakat sekitar akan terarahkan kepada si pedagang Dayak itu.
  10. Mudah tersinggung dalam hal-hal yang menyangkit suku dan adat istiadatnya. Perasaan terhina bisa menjadi motivasi yang kuat bagi mereka untuk bertindak, tetapi tidak untuk mempelajari system pengembangan ekonomi secara terencana dan objektif.
  11. Seringkali orang Dayak menghormati tamu secara berlebihan. Bagi tamu disediakan makanan istimewa yang mereka sendiri mungkin jarang sekali bisa menikmatinya. Penghormatan kepada tamu luar ini tanpa perhitungan ekonomis.
  12. Sisa-sisa kejujuran dan kepolosan orang Dayak dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk menipu mereka sendiri. Mereka mudah terpengaruh oleh kata-kata manis. Dengan sedikit janji lisan saja, orang lain dapat memperoleh keuntungan dari mereka.
  13. Tidak mengenal perbedaan antara kata dan perbuatan. Pada orang Dayak tradisional, apa yang dikatakannya pasti akan dilaksanakannya. Sebaliknya, jangan percaya kepada orang Dayak “modern”, sebab mereka telah pandai bersilat lidah.
  14. Orang Dayak sangat jarang yang berminat menjadi anggota militer. Memegang senjata bagi mereka berkonotasi “siap membunuh” secara kurang jantan. Padahal anggapan ini keliru. Akibatnya peluang mereka untuk berperang dalam kekuasaan politik menjadi kecil. Kita tahu bahwa kekuasaan politik dapat berpengaruh sangat besar terhadap perekonomian.

Dikutip dari: Transformasi Budaya Dayak Dalam Pembangunan Sosial-Ekonomi (P.Florus)

Iklan