JIPEN (Budak) DALAM BUDAYA DAYAK NGAJU


JIPEN (Budak) DALAM BUDAYA DAYAK NGAJU

41-72-10/20 T2377

Sampai tahun 1857 budaya Dayak Ngaju masih tetap utuh dijalankan, salah satunya adalah mengenai “JIPEN” atau perbudakan. Menusia ciptaan Tuhan dikotak-kotakan menjadi tiga golongan:

1. Golongan Tinggi atau disebut “UTUS GANTUNG” atau “UTUS TATAU”

2. Golongan Rendah atau disebut “UTUS RANDAH”

3. Golongan budak atau disebut “UTUS JIPEN”

Utus Jipen / budak ini ada 3 jenis:

1. JIPEN KABALIK LAPIK SANDUNG, disebut juga JIPEN HANTUEN; berasal tempat tinggalnya di Sungai Rasen, Simpang Rungan hulu. Jipen Hantuen keturunan Angkes/Tahuman, turun temurun menjadi jipen (budak) dan boleh diperjual-belikan kepada barang siapa yang ingin memelihara jipen, pada zaman dahulu harganya Rp. 30,- seorang jipen.

2. JIPEN SAMBUAT, karena melanggar hukum adat, dikenakan denda yang tidak dapat dibayar oleh pelanggar hukum tersebut. Tetapi bilamana ada dari keluarganya dapat menolong, maka ia dibebaskan.

3. JIPEN karena hutang, meminjang uang atau barang yang anak-beranak (berbunga) ada yang disebut MANAK SALIPET (dibayar 2 kali pokok); ada yang disebut NAKOLOK (Pokok + 1/2 Pokok menjadi 1-1/2 kali pokok).

Orang yang menjadi Jipen tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya, ketika yang tuan pemilik jipen ini mati, maka jipen juga akan ikut dibunuh menjadi pelayan di akhirat pada upacara TIWAH. Makanya ada istilah SEKRAUNG atau SAKI RAUNG, dimaan darah Jipen/budak tadi ditumpahkan untuk mengurapi / Manyaki peti mati / raungnya. Bahkan dibeberapa peninggal Rumah Betang akan ditemukan rantai besi untuk mengikat JIPEN ini.

Ilustrasi (ini adalah foto budak di Afrika)

Ilustrasi (ini adalah foto budak di Afrika)

Didalam budaya dayak yang lain juga dikenal adat Jipen ini, misal Dayak Lun Dayeh memperbudak Kaum Lengiluk pada masa lalu. Beruntunglah karena pengaruh Missionaris yang masuk ke Tanah Kalimantan maka perbudakan dapat dihentikan. Baca: Artikel INJIL MASUK KE TANAH PARA “PENGAYAU”

Tabe,

Palangkaraya 31-Jan-2013

Iklan